Ngojek Setelah Gagal Jadi Polisi, Akhirnya Jadi Bupati
Rabu, 07 Oktober 2015 | 15:34:23 WIB | Kategori: Berita Pemerintahan | Dibaca: 2643 Kali


Ambo Tang saat diambil sumpah pada Pelantikan Bupati Tanjung Jabung Timur sisa bakti 2011-2016

Jambi--Hari ini (6/10) merupakan hari bersejarah bagi H Ambo Tang, SE, dirinya secara resmi dilantik sebagai Bupati Tanjung Jabung Timur oleh Pj Gubernur Jambi, H Irman, di ruang Pola Kantor Gubernur, menggantikan H Zumi Zola, STP, MA yang resmi mengundurkan diri karena pencalonannya sebagai Gubernur Jambi.

Jauh sebelum dilantik sebagai bupati, Ambo Tang telah mengarungi asam garam kehidupan. Perjalanan hidupnya bak air mengalir. Ia hanya mengikuti alirannya menuju muara. Gagal jadi polisi, Ia mencoba berdagang. Kemudian beralih profesi menjadi tukang ojek yang dijalaninya selama sembilan tahun. Sebelum akhirnya menjadi  politisi.  Tak terbayangkan sedikit pun oleh Ambo, bahwa suatu ketika Ia akan menjadi seorang bupati di tanah kelahirannya.

Ambo tumbuh besar di lingkungan keluarga tanpa adanya  sosok seorang ayah. Sejak umur lima tahun, Ia dan keempat saudaranya sudah ditinggal sang ayah Daeng Pawata,  untuk selama-lamanya. Ambo sendiri merupakan anak keempat. Ibunya Dumma, yang kemudian membesarkannya.

 “Saat itu Ibu bekerja seorang diri untuk  menghidupi kami,” kenang Ambo Tang.

Perjuangan seorang ibu untuk menghidupi lima orang anak yang masih kecil tentulah bukan pekerjaan yang ringan.  Kerja keras  ibunya  ini menjadi rekam jejak yang tak mungkin terlupakan seorang Ambo Tang. Dan gambaran itu menjadi pegangan dirinya saat  Ia berupaya  menamatkan sekolah dengan hasil biaya dari kerja serabutan.

Pahit getirnya kehidupan sangat dirasakan Ambo, saat duduk di bangku SMP. Saat dimana Ia mulai merasakan bagaimana sosok ibunya bekerja keras,  membanting tulang demi menghidupi anak-anaknya. Termasuk membiayai sekolah Ambo, dan saudara-saudaranya yang lain.

Faktor ekonomi keluarga yang memprihatinkan itu  tidaklah  membuatnya terbebani dalam meraih prestasi di sekolah. Malah makin melecut semangatnya dalam belajar.  Alhasil, prestasi  akademiknya termasuk unggul. Posisi tiga besar tak pernah lepas dari genggamannya, mulai dari kelas satu hingga lulus SMP. Sementara dikegiatan sekolah seperti Pramuka dan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) Ia termasuk menonjol.

Ia kerap terpilih sebagai  duta sekolah untuk mengikuti Jambore Pramuka di tingkat kabupaten maupun provinsi.  Bagi Ambo, kegiatannya di kepanduan itu sendiri merupakan bagian dari pelepasan hasratnya  yang lama  terpendam. Ia sangat  memimpikan menjadi polisi. Keinginan itu tumbuh sedari Ia masih anak-anak, saat sering melihat polisi berseragam.

“Kalau melihat  polisi berseragam, Saya sampai terbayang sepanjang hari. Gagah sekali kelihatannya,”  ungkap  Ambo.

Nah, demi mengejar mimpi menjadi polisi, Ambo, pun lebih memilih melanjutkan pendidikannya di Sekolah Guru Olahraga (SGO) Muara Bulian, Kabupaten Batanghari. Sekolah  kejuruan yang mendidik tenaga guru olah raga itu dianggapnya bisa menjadi batu loncatan, untuk  mendekatkan  impiannya menjadi polisi. Karena di sekolah itu Ia  berharap lebih bisa menjaga kebugaran  untuk menghadapi test di kepolisian.

Namun untuk mewujudkan tekadnya itu, tidaklah segampang  bayangannya. Terbatasnya biaya dan hidup jauh dari orang tua  membuatnya harus rela  kerja keras untuk menamatkan sekolah. Kerja serabutan yang bisa menghasilkan uang dilakoninya. Dari berdagang kecil-kecilan hingga menjadi kuli bangunan pun dijalaninya. Tekadnya yang membaja itu kadang sampai bisa  mengalahkan rasa lapar dan dahaga selepas dari sekolah.

“Apa saja yang bisa menghasilkan uang halal akan  saya jalani, karena saya yakin suatu saat kita akan mendapat yang terbaik,” ujarnya.

 Hebatnya, rasa lelah  berperas  keringat  terbayarkan dengan raihan prestasi akademik sekolahnya. Sama seperti saat  Ia masih di SMP,  peringkat juara umum kembali  digenggamnya. Dan prestasi itu terus bertahan semenjak dari kelas satu hingga meraih ijazah akhir. Prestasi sekolah yang mentereng itu membuatnya mendapat perhatian khusus dari para guru. Dan sesekali ia kerap diminta menggantikan peran guru  untuk mengajar kawan-kawannya di kelas.

Bukan pretasi akademik saja yang menonjol dari Ambo Tang,  para guru dan nama  daerah Kabupaten Batanghari pun turut bangga dengan prestasi yang dicetaknya dibidang olah raga. Ia kerap meraih juara dalam cabang olah raga pencak silat dan karate.

Dari dua cabang beladiri yang dikuasainya itu, Ia beberapa kali meraih medali. Diantaranya  pada Pekan Olahraga Daerah (Porda) tahun 1998 di kelas bebas cabang olahraga Pencak Silat. Medali Perak Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) tahun 1997, melalui olahraga Karate di kelas bebas. Serta medali  perak kejuaraan INKAI terbuka  Muara Bulian tahun 1997.

Kesempatan untuk mewujudkan impiannya menjadi polisi langsung  disambarnya saat ia menamatkan SGO.  Ambo bergegas mendaftar dikepolisian. Sayang, setelah menjalani test, Ia  terpaksa harus mengubur impiannya menjadi polisi.  Ia dinyatakan gagal disalah satu tahapan test. Dan saat itu Ia sempat merasakan kegalauan. Bingung untuk  berbuat apa. Tapi itu tak berlangsung lama. Ia  banting stir dengan mulai merintis  usaha. Mulai dari berdagang asongan di Batam sampai menjadi pedagang antar pulau.

Setelah menjelajah zona  antar pulau dengan berdagang, akhirnya Ia kembali ke kampung halamannya di Nipah Panjang.  Usaha dagang dilepasnya. Dan Ia menekuni profesi baru sebagai tukang ojek. Zaman itu, ojek menjadi sarana alternatif yang sangat diandalkan. Karena roda  transportasi darat masih  begitu minim, warga lebih mengandalkan jalur sungai dan laut sebagai sarana angkutan.

Profesi ojek ketika itu termasuk  yang laris manis. Ambo yang  sudah terbiasa kerja keras tidak memilih waktu dalam menjalani pekerjaan ini. Malam hari pun kadang Ia masih membawa   penumpang  yang  minta diantar sampai jauh dari Kecamatan Nipah Panjang. Tidak ada rasa gentar dalam dirinya. Atau pun risau dengan kondisi cuaca  pesisir  timur yang cepat berubah. Medan jalan  yang sukar dilalui akan   ditempuhnya bila sudah ada penumpang yang menyewa ojeknya.

Sembilan tahun  lebih Ambo menjalani  hari-hari sebagai tukang ojek. Tak terhitung sudah berapa banyak penumpang  yang saban hari mengandalkan jasanya. Termasuk  pelanggan setia yang mengenalnya. Dan itu  menjadi salah satu  keberuntungan  Ambo. Karena dari ngojek itu bukan hanya uang yang di dapatnya.   Ia juga memiliki banyak kenalan hampir dibanyak tempat. Dan itu sangat menguntungkan dirinya ketika kelak Ia terjun sebagai politikus.

Kesempatan itu datang  setelah Ia bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN) Kecamatan Nipah Panjang. Peluang menjadi anggota DPRD Kabupaten Tanjab Timur terbuka lebar, setelah  PAN memastikan dirinya turut serta sebagai kontestan di Pemilu tahun 2004. Berbekal nomor urut calon legislatif  1 dari daerah pemilihan 2, Ia berhasil mendulang suara sebanyak 1.685. Dan suara itu cukup untuk  mengantarkannya duduk sebagai anggota parlemen Tanjab Timur.

Setelah duduk sebagai wakil rakyat, karirnya di partai mulai meroket. Ia masuk dalam struktural jajaran partai sebagai Wakil Sekretaris DPD PAN Tanjab Timur pada  tahun 2003.  Keberadaan  dirinya parlemen  dan posisinya yang strategis   di  lingkaran elit partai,  membuat namanya  masuk sebagai calon kuat di bursa kandidat  wakil bupati  mendampingi  Zumi Zola Zulkifli, di periode 2011-2016.***

Sumber: Bagian Humas dan Protokol Setda Tanjung Jabung Timur



BERITA TERBARU


Komentar

POTENSI DAERAH

GALLERY KEGIATAN

ONLINE SURVEY

Bagaimana Menurut Anda Informasi Yang kami Sediakan?
Sangat Lengkap
Lengkap
Tidak lengkap
Sangat Tidak Lengkap

ONLINE SUPPORT